Para sopir truk angkutan batu bara Jambi mengadukan nasib mereka kepada Gubernur Jambi, H Al Haris di rumah dinas Gubernur Jambi, Minggu (7/1/2024). (Foto : Matra/KominfoJambi).

(Matra, Jambi) – Berbagai elemen masyarakat Jambi mendukung kebijakan Gubernur Jambi, Dr H Al Haris, SSos, MH yang melarang kegiatan angkutan batu bara di jalan nasional. Instruksi Gubernur Jambi Nomor: 1/INGUB/DISHUB/2024 yang melarang angkutan batu bara melalui jalan nasional dinilai sangat tepat mengatasi kemacetan lalu lintas antar kabupaten dan provinsi di Jambi.

Ketua Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Provinsi Jambi, Ramazani Janiardeni di Jambi, Selasa (9/1/2024) mengatakan, pihaknya mendukung larangan Gubernur Jambi mengenai kegiatan angkutan batu bara di jalan nasional yang merupakan jalur utama transportasi umum. Larangan mengenai kegiatan truk-truk angkutan batu bara di jalan nasional di Jambi kini sudah mulai bisa mengurai kemacetan lalu lintas, khususnya jalur Kabupaten Batanghari – Kota Jambi – Muarojambi.

“Kebijakan Gubernur Jambi ini sudah lama kita tunggu. Masyarakat Jambi sudah terlalu lama menderita akibat kepadatan angkutan batu bara yang memacetkan arus lalu lintas di jalan raya. Kemudian kepadatan truk angkutan batu bara di jalan raya selama ini juga sering menimbulkan kecelakaan lalu lintas, terutama pada jalur lintasan mahasiswa Mendalo, Kabupaten Muarojambi – Kota Jambi,”katanya.

Ramazani Janiardeni mengharapkan, kebijakan Gubernur Jambi melarang aktivitas angkutan batu bara di jalan nasional mulai Senin (1/1/2024) tersebut jangan hanya bersifat sementara. Kebijakan tersebut harus dilaksanakan secara permanen.

“Kami mendukung larangan pengoperasian angkutan batu bara di jalan nasional ini bukan untuk menghambat investasi. Tetapi yang perlu diutamakan keselamatan dan kenyamanan masyarakat, khususnya penggunan jalan umum. Angkutan batu bara dipersilahkan nanti lewat jalan khuus batu bara. Saat ini angkutan batu bara dierbolehkan melalui Sungai Batanghari,”katanya.

Sementara itu, seorang mahasiswa Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Syaifuddin (UI STS), Angga juga mendukung larangan angkutan batu bara di jalan nasional. Larangan kegiatan truk angkutan batu bara tersebut membuat para mahasiswa UIN STS Jambi Kampus Mendalo, Muarojambi semakin nyaman pulang pergi ke kampus dari Kota Jambi.

“Selama ini truk angkutan batu bara yang sering konvoi dari kedua arah pada jalur kampus Simpang Rimbo, Kota Jambi – Mendalo, Kabupaten Muarojambi selalu membuat jalan macet dan rawan kecelakaan. Hal tersebut membuat para mahasiswa tidak nyaman dan tidak aman berkendara sepeda motor bolak-balik Kota Jambi – Mendalo, Muarojambi,”katanya.

Secara terpisah, mantan anggota DPR RI dan juga mantan Bupati Tanjungjabung Barat, H Usman Ermulan juga mendukung kebijakan GUbernur Jambi menghentikan kagiatan pengangkutan batu bara di jalan nasional. Kebijakan itu dinilai tepat guna merespon berbagai keluhan masyarakat Jambi, khususnya pengguna kenderaan yang sering melalui jalan nasional Kota Jambi – Batanghari – Sarolangun dan Bungo. Selama ini ruas jalan tersebut sering macet total, sehingga kendaraan penumpang dan pribadi sering terjebak macet hingga mengalami kecelakaan.

“Kami sangat mendukung ketegasan Gubernur Jambi mengarahkan pemegang izin batu bara mengangkut hasil tambang batu bara mereka menggunakan jalur sungai. Pengalihan angkutan batu bara dari jalan nasional ke jalur sungai ini membuat masyarakat pengguna jalan tidak lagi terganggu truk batu bara,”katanya.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Sopir Batu Bara (ASB) Provinsi Jambi, Tursiman menegaskan, para sopir truk batu bara yang berusaha secara mandiri sangat dirugikan akibat larangan pengoperasian angkutan batu bara di jalan nasional tersebut. Larangan tersebut membuat banyak sopir batu bara kini menganggur.

“Kami sudah menemui Gubernur Jambi terkait dampak kebijakan larangan angkutan batu bara di jalan nasional terhadap para sopir batu bara ini. Kami juga sudah melakukan unjuk rasa mencari solusi untuk para sopir batu bara yang kini menganggur. Namun solusinya tidak ada. Kami akan terus berjuang agar para sopir batu bara bisa bekerja kembali,”katanya. (Matra/AdeSM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *