28 Januari 2023
Ruas jalan lingkar Danau Toba di Dusun Hutaimbaru, Nagori Ujung Mariah, Kecamatan Pamatang Silimahuta, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumut yang saat ini masih jalan tanah. Gambar diambil, Kamis (22/12/2022). (Foto : Matra/Radesman Saragih).

(Matra, Simalungun) – Perbaikan kerusakan jalan di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara (Sumut) sangat lamban. Sebagian besar jalan rusak di daerah itu belum diperbaiki hingga saat ini. Bahkan kerusakan jalan yang sudah lama terjadi di Simalungun tampak semakin berat akibat musim hujan dan banyak dilalui kendaraan berat. Ironisnya, kerusakan jalan tersebut berada pada jalur mudik Natal dan Tahun Baru (Nataru). Sedangkan jalan lingkar Danau Toba yang menjadi akses utama ke beberapa desa pesisir Danau Toba, Nagori Ujung Mariah, Kecamatan Pamatang Silimahuta, Simalungun kondisinya hancur.

Pantauan medialintassumatera.net (Matra) pada jalur mudik Nataru di Simalungun mulai dari Perdagangan hingga memasuki Kota Pematangsiantar, Rabu (21/12/2022), sebagian ruas jalan rusak berat. Selain tidak lagi beraspal, sebagian besar jalan rusak berlumpur dengan lebar hingga beberapa meter. Kerusakan jalan tersebut tampak mulai dari jembatan Perdagangan.

Jembatan Perdagangan sendiri hanya tinggal kerikil karena aspalnya sudah terkelupas. Kondisi kerusakan yang sama juga terjadi dari jembatan Perdagangan hingga ke pusat kota Perdagangan dan batas Kota Pematangsiantar. Sebagian jalan rusak mulai diperbaiki namun baru ditimbun kerikil dan pasir tanpa aspal.

“Kerusakan jalan ini sudah betahun-tahun terjadi. Kemudian mobilitas kendaraan yang melintasi ruas jalan ini sangat tinggi, termasuk kendaraan berat seperti truk dan bus. Namun perbaikan kerusakan jalan ini tak kunjung dilakukan, padahal ini sudah memasuki musim Natal dan Tahun Baru. Akibat curah hujan tinggi, kerusakan jalan ini juga semakin parah,”kata Rizal (35) seorang awak bus Jambi – Kota Pematangsiantar.

Menurut Rizal, kerusakan jalan Perdagangan – Kota Pematangsiantar juga menimbulkan kerawanan kecelakaan lalu lintas, kemacetan lalu lintas dan lambatnya waktu tempuh. Kecelakaan rawan terjadi karena mobil yang melintas sering mencuri jalur jalan dan melaju secara zikzak.

“Kersakan jalan ini sudah sering dilaporkan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Simalungun dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut. Namun perbaikan jalan tak kunjung diperbaiki. Kami juga pesimis perbaikan jalan ini tak lagi mendapatkan perhatian memasuki tahun politik, 2023 – 2024,”katanya.

Jalan lingkar Danu Toba di Desa Ujung Mariah, Kecamatan Pamatang Silimahuta, Simalungun, Sumut yang masih tetap jalan tanah sejak dibangun belasan tahun silam. Gambar diambil, Jumat (22/12/2022). (Foto : Matra/Radesman Saragih).

“Cuci Tangan”

Kerusakan jalan yang cukp berat dan sudah lama tak diperbaiki di Simalungun terdapat juga pada jalur Kota Pematangsiantar – Kabupaten Simalungun. Kerusakan jalan tersebut terdapat pada ruas jalan Rayausang – Raya Huluan – Raya Kahean, Kecamatan Dolok Masagal. Kerusakan jalan yang mencapai puluhan kilometer pada jalur mudik Nataru di Simalungun – Kabupaten Karo terebut cukup parah.

Sebagaian besar badan jalan tergenang air karena lubang menganga di jalan ada yang mencapai kedalaman 30 centimeter (Cm) dengan lebar hingga dua meter. Kemudian lubang di jalan yang berubah menjadi kubangan tersebut cukup banyak, sehingga kendaraan sulit melintas.

Sebagian besar mobil yang meilntas terpaksa melaju dengan zigzag, sehingga rawan kecelakaan. Kemudian kerusakan jalan juga membuat waktu tempuh Kota Pematangsiantar – Seribudolok, Kabupaten Simalungun yang biasanya bisa dicapai hanya 1,5 jam bertambah menjadi 2,5 jam.

Ridwan (45), seorang pengemudi minibus Kota Pematangsiantar – Kabanjahe mengatakan, pemerintah tekesan tak ambil peduli lagi terkait kerusakan jalan Rayausang – Raya Huluan, Simalungun ini. Kerusakan jalan ini sudah terjadi cukuplama, sejak Bupati Simlaungun dijabat JR Saragih. Di masa kepemimpinan Bupati Radiapoh Hasiholan Sinaga juga kerusakan jalan tersebut juga tidak diperbaiki dengan alasan ruas jalan tersebut bersatus jalan provinsi.

“Sedangkan Pemprov Sumut sendiri kurang peduli terhadap keruskana jalan ini. Warga masyarakat sudah sering mengadukan kerusakan jalan hingga melakukan unjuk rasa, tepi perbaikan jalan ini tak kunjung dilakukan,”keluhnya.

Dikatakan, kerusakan jalan juga merugikan pemilik kendaraan, khusunya mobil penumpang dan barang. Banyaknya ruas jalan membuat suku cadang kendaraan bermuatan berat sering rusak seperti ban pecah atau bocor hingga per mobil patah. Selain itu bak mobil juga kerap rusak akibat telalu sering melewati jalan rusak.

“Biaya operasional kendaraan akibat sering melalui jalan rusak ini juga bertambah. Biaya operasional tersebut, yakni pengganian ban yang cepat aus dan bocor serta penggantian per mobil yang sering patah. Karena itu kami berharap, kerusakan jalan ini perlu diperbaiki,”katanya.

Sementara itu pihak pemerintahan di Simalungun terkesan “cuci tangan” atau melepas tanggung jawab atas kerusakan jalan di Simalungun. Hal terebut tercermin dari adanya spanduk jalan yang dipasang di setiap lokasi jalan rusak mulai dari Rayausng – Raya Huluan. Spanduk tersebut menyebutkan “Jalan ini adalah jalan Provinsi Sumatera Utara”.

Melalui pemasangan spanduk tersebut, warga dan pengguna kendaraan yang melintasi jalan rusak di Simalungun mengetahui bahwa perbaikan kerusakan jalan provinsi di daerah itu tanggung jawab Pemprov Sumut.

Sangat Parah

Sementara itu, ruas jalan yang merupakan jalur mudik Nataru ke desa-desa di pesisir Danau Toba, Kecamatan Pamatang Silimahuta, Kabupaten Simalungun juga banyak yang rusak berat. Salah satu di antaranya jalan lingkar Danau Toba mulai dari Simpang Bage – Dusun Hutaimbaru, Kecamatan Pamatang Silimahuta. Puluhan kilometer jalan perintis pesisir Danau Toba dari Simpang Bage – Hutaimbaru rusak berat.

Ruas jalan di lereng bukit dengan lebar rata-rata hanya dua meter tersebut sama sekali tidak diaspal. Ruas jalan berkubang karena merupakan jalan tanah dan sebagian memiliki batu yang sudah terserak di badan dan pinggir jalan. Ruas jalan tanah tersebut juga sangat licin dang rawan kecelakaan lalu lintas di saat musim hujan sekarang ini.

Ruas jalan rusak berat Simpang Bage – Hutaimbaru yang merupakan asal kampung halaman orang tua anggota DPR RI, Junimart Girsang tersebut merupakan akses utama dari lima warga dusun menuju ibukota Kecamatan Pamatang Silimahuta, yakni Seribudolok dan ibukota Kabupaten Karo, Kabanjahe. Lima dusun yang mengandalkan akses jalan lingkar Danau Toba tersebut menuju pusat perdagangan di kota, yakni Dusun Hutaimbaru, Nagori Purba, Soping, Baluhut dan Bage.

Warga lima dusun itu kini mengandalkan jalur jalan darat tersebut karena transportasi air yang selama ini menjadi andalan kini sudah jarang. Sebagian besar warga lima dusun tersebut kini lebih banyak menggunakan kendaraan bak terbuka dan sepeda motor.

Beberapa warga Desa Nagori Ujung Mariah, Dusun Hutaimbaru, Kecamatan Pamatang Silimahuta yang ditemui medialintassumatera.net (Matra) di los atau balai pertemuan Dusun Hutaimbaru, Kamis (22/12/2022) mengungkapkan, sejak dibangun oleh TNI Manunggal Desa belasan tahun silam, ruas jalan lingkar Danau Toba dari Simpang Bage – Hutaimbaru – Nagori Purba belum pernah diaspal.

Ruas jalan tersebut masih tetap jalan tanah dan hanya dipasang batu. Saat ini sebagian besar tanah dan pasirdi badan jalan hanyut terbawa air hujan. Akibatnya badan jalan banyak berlumpur dan batu-batu jalan yang sudah tercabut dari tanah. Kondisi itu membuat jalan berlumpur, sulit dilalui, waktu tempuj menjadi lambat dan rawan kecalakaan lalu lintas.

Upaya aparatur pemerintah desa, kecamatan dan kabupaten memperbaiki kerusakan jalan ini tidak ada sampai sekarang. Warga Dusun Hutaimbaru berharap adanya perhatian Pemprov Sumut dan Pusat memperbaiki jalan ke kampung mereka.

“Akses kami ke ibukota kecamatan hanya jalan ini karena kapal motor atau angkutan air dari kampung ini ke Tongging, Kabupaten Karo tidak ada lagi. Saat ini semakin jarang kapal dari kampung ini karena pengusaha kapal motor beralih ke angkutan darat. Sementara jalan darat sulit dilalui karena kerusakan jalan semakin parah,”kata searang warga Hutaimbaru, D Sinaga. (Matra/AdeSM).

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *