28 Januari 2023
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin. (Foto : Matra/Kemenkes).

(Matra, Jambi) – Warga Kota Jambi, khususnya kalangan ibu-ibu masih banyak yang merasa bingung dan resah terkait penyebaran penyakit gangguan ginjal akut pada anak akibat mengkonsumsi obat sirop penurun panas atau demam anak yang mengandung parasetamol.

Kebingungan dan keresahan tersebut muncul menyusul belum adanya pernyataan resmi pemerintah terkait obat pengganti sirop penurun demam anak-anak. Sementara penarikan obat sirop penurun demam belum ditarik dari apotek-apotek di Jambi.

“Kami masih bingung mengatasi kalau anak demam atau panas tinggi. Masalahnya pemerintah belum merekomendasikan obat apa yang seharusnya dikonsumsi untuk menurunkan panas atau demam anak. Sementara obat sirop mengandung paraetamol untuk menurunkan panas anak-anak belum ditarik dari apotek di Jambi,”kata Silvia (30), warga Kota Jambi di Jambi, Sabtu (22/10/2022).

Silvia mengaku, informasi yang simpang siur mengenai larangan penggunaan obat sirop, khususnya obat sirop mengandung parasetamol penurun demam anak membuat kalangan ibu-ibu di Jambi bingung. Hal tersebut disebabkan banyak ibu-ibu di Jambi yang selama ini menggunakan obat sirop mengandung parasetamol untuk menurunkan demam anak.

“Banyak ibu-ibu di Jambi selama ini menggunakan obat sirop parasetamol menurunkan demam anak mereka, bukan obat tablet dan racikan. Saat ini mereka bingung karena belum ada pengganti obat sirop penurun demam anak. Terkadang obat biasa, tablet dan racikan kurang manjur menurunkan demam anak. Terjadang anak tidka mau mengkonsumsi obat demam racikan apalagi tablet,”katanya.

Sementara itu, Masnur (58), apoteker sebuah apotek di Kota Jambi mengatakan, mereka sekarang direpotkan menyusul larangan penggunaan obat sirop, khususnya sirop mengandung parasetamol penurun demam. Larangan penggunaan obat sirop membuat para petugas apotek bekerja ekstra keras seharian menyiapkan obat racikan untuk penurun demam anak-anak.

“Saat ini kami sangat sibuk dan kerja ekstra menyiapkan obat racikan untuk penurun demam anak-anak. Masalahnya kasus demam anak-anak di Jambi saat ini relatif banyak menyusul cuaca ekstrim. Biasanya kami menyediakan obat sirop untuk anak-anak yang mengalami demam,”katanya.

Menurut Masnur, apotek tempatnya bekerja kini tidak lagi menjual obat sirop jenis apa pun menyusul adanya larangan pemerintah. Namun obat sirop yang selama ini tersedia (stok) di apotek tersebut belum ditarik Balai Pengawasan Obat dan Makanan (POM) Jambi.

Sementara itu, dokter praktek yang juga dokter Dinas Kesehatan Kota Jambi, dr H Erwan Mudjo, MKes kepada medialintassumatera.net (Matra) di Kota Jambi, Sabtu (22/10/2022) menjelaskan, pihak Dinas Kesehatan Kota Jambi belum mengeluarkan imbauan mengenai penarikan obat sirop dari apotek-apotek karena belum ada instruksi dari Kementerian Kesehatan.

“Namun seluruh apotek di Jambi sudah diminta menghentikan penjualan seluruh obat sirop menyusul adanya larangan Kementerian Kesehatan. Kalau nanti Kementerian Kesehatan dan BPOM mengumumkan penarikan obat sirop dari pasaran, maka kami akan meminta apotek menyerahkan seluruh obat sirop yang mereka simpan,”katanya.

Dikatakan, kendati belum adanya penarikan stok obat sirop dari apotek-apotek di Jambi, pihaknya tetap mengawasi apotek di Kota Jambi agar tidak ada yang menjual obat sirop kepada warga masyarakat.

Tabel kasus gangguan ginjal akut di Indonesia, Jumat (21/10/2022). (Foto : Matra/Kemenkes).  

241 Kasus

Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Jumat (21/10/2022) menjelaskan, kasus penyakit gangguan ginjal akut yang umumnya diserita anak-anak sudah menyebar ke 22 provinsi di Tanah Air. Jumlah kasus gangguan ginjal akut misterius (acute kidney injury/AKI) di ke-22 provinsi tersebut mencapai 241 kasus. Jumlah kasus AKI tersebut meningkat dari 206 kasus Selasa (18/10/2022). Jumlah penderita gangguan ginjal akut yang meninggal mencapai 133 orang.

Menurut Budi Gunadi Sadikin, pihaknya dan stakeholder (pihak terkait) kini masih mencari penyebab gangguan gagal ginjal akut. Beberapa faktor risiko penyebab kejadian gagal ginjal akut, yakni intoksikasi etilen glikol dari obat sirup, infeksi virus yang ditemukan dalam tubuh pasien dan sindrom peradangan multisistem pasca-Covid-19 (multisystem inflammatory syndrome in children/MIS-C).

“Namun demikian, sebagai bentuk kewaspadaan, Kemenkes mengambil langkah konservatif menginstruksikan apotek dan dokter untuk tidak menjual maupun meresepkan obat sirup,”ujarnya.

Dijelaskan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan lima jenis sirup obat batuk/parasetamol yang mengandung cemaran etilen glikol melebihi ambang batas yang sudah ditentukan, Kamis (20/10/2022). Temuan tersebut terungkap seusai melakukan sampling (pemeriksaan contoh) terhadap 39 bets dari 26 sirup obat.

“Keberadaan cemaran etilen glikol dimungkinkan dalam bentuk kontaminan pada bahan tambahan sediaan sirup yaitu propilen glikol, polietilen glikol, sorbitol, dan gliserin/gliserol. Sesuai Farmakope dan standar baku nasional yang diakui, ambang batas aman atau Tolerable Daily Intake (TDI) untuk cemaran etilen glikol dan dietilen glikol sebesar 0,5 mg/kg berat badan per hari,”katanya.

Terbitkan Aturan

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Pelayanan Kesenatan Rujukan dr Yanti Herman, MH Kes mengatakan, Kementerian Kesehatan melalui Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan menerbitkan Tata Laksana dan Managemen Klinis Gangguan Ginjal Akut Progresif Atipikal (Atypical Progressive Acute Kidney Injury) Pada Anak di Fasilitas Pelayanan Kesehatan melalui Surat Keputusan Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Nomor HK.02.02./2/I/3305/2022.

Surat Keputusan yang diterbitkan pada tanggal 28 September 2022 tersebut bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan dini sekaligus sebagai acuan bagi fasilitas pelayanan kesehatan dalam memberikan penanganan medis kepada pasien gagal ginjal akut.

”Gagal ginjal akut pada anak di Indonesia telah terdeteksi tahun 2022. Namun kasus baru mengalami peningkatan pada September. Kami telah melakukan beberapa antisipasi peningkatan kasus gagal ginjal akut ini. Di antaranya melakukan fasilitasi dengan menyusun pedoman penatalaksanaan Gagal Ginjal Akut pada Anak,’katanya.

Menurut Yanti Herman, secara keseluruhan pedoman penanganan gagal ginjal akut tersebut memuat serangkaian kegiatan yang harus dilakukan tenaga medis dan tenaga kesehatan lain dalam menangani pasien Gangguan Ginjal Akut Progresif Atipikal sesuai dengan indikasi medis.

Penanganan tersebut dimulai dari diagnosis klinis. Penegakan diagnosis untuk penyakit gagal ginjal akut pada anak diawali dengan mengamati gejala dan tanda klinis yang dialami pasien, salah satunya terjadi penurunan jumlah BAK (oliguria) atau tidak ada sama sekali BAK (anuria).

”Penurunan cepat dan tiba-tiba pada fungsi filtrasi/penyaringan ginjal. Biasanya ditandai peningkatan konsentrasi kreatinin serum atau azotemia dan/atau penurunan sampai tidak ada sama sekali produksi urine,”katanya.

Gejala Awal

Disebutkan, gagal dinjal akut diketahui menyerang anak dengan di rentang usia 6 bulan-18 tahun, paling banyak terjadi pada balita (bayi lima tahun). Gejala awalnya berupa infeksi saluran cerna dan gejala infeksi saluran pernafasan atas (ISPA). Gejala khas adalah jumlah air seni yang semakin berkurang bahkan tidak bisa buang air kecil sama sekali. Pada kondisi seperti sudah fase lanjut dan harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan atau rumah sakit.

Untuk itu, katanya, orang tua yang anaknya memiliki gejala seperti di atas diminta lebih waspada dengan aktif melakukan pemantauan tanda bahaya umum serta pemantauan jumlah dan warna urin (pekat atau kecoklatan) di rumah, pastikan anak mendapatkan cairan yang cukup dengan minum air.

”Bila anak mengalami gejala dan tanda disertai dengan volume urine berkurang atau tidak ada urine selama 6-8 jam (saat siang hari), segera bawa anak anda ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut,”ujarnya. (Matra/AdeSM/BerbagaiSumber).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *