28 Januari 2023
Pesona alam Danau Pauh, Kecamatan Jangkat yang memikat. Danau Pauh masuk kawasan Geopark Merangin, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Gambar diambil Senin (3/10/2022). (Foto : Matra/KominfoMerangin). 

(Matra, Jambi) – Kawasan geopark (taman bumi) di  Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi benar-benar menyimpan banyak keajaiban. Karena itulah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merangin tak kenal lelah memperjuangkan agar Geopark Merangin bisa mendapatkan pengakuan sebagai salah satu keajaiban dunia (world heritage).

Keajaiban yang tersimpan di kawasan Geopark Merangin tidak hanya koleksi benda mati seperti fosil-fosil daun, kayu, akar, hewan dan juga kerang-kerangan berusia ratusan juta tahun. Situs peninggalan zaman purba tersebut juga memiliki kawasan wisata alam yang memikat berupa aliran Sungai Batanghari dan hutan lebat.

Tak kalah menariknya, Geopark Merangin yang kini diperjuangkan masuk World Heritage juga memiliki kekayaan sosial budaya masyarakat tempo dulu yang hingga kini masih terpelihara secara turun-temurun. Kehidupan sosial budaya kuno yang masih dilakoni warga masyarakat di kawasan Geopark Merangin di antaranya rumah tua dan tradisi sosial.

Keajaiban sosial budaya masyarakat kawasan Geopark Merangin terekam ketika Wakil Bupati Merangin, H Nilwan Yahya meninjau kawasan Geopark Merangin, Senin (3/10/2022). Turut dalam kunjungan tersebut, General Manager Geopark Merangin Dr Agus, Koordinator Badan Pengelola Geopark Merangin, Malla Indra, Kepala Dinas (Kadis) Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Merangin, M Arief, Kadis Pariwisata Merangin, Sukoso dan Geologist Geopark Merangin, Magdalena Ritonga.

Peninjauan tersebut dilakukan guna melihat persiapan Tim Geopark Merangin menghadapi penilaian Badan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Budaya Dunia (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization/UNESCO). Tim UNESCO Global Geopark (UGG) akan menilai kesiapan dan persyaratan Geopark Merangin untuk masuk World Heritage pada 6 – 11 Oktober 2022.

Nilwan Yahya tidak hanya takjub terhadap fosil-fosil peninggalan zaman purba di kawasan Geopark Merangin. Dia juga takjub melihat keberadaan rumah tua di Kecamatan Jangkat yang masih masuk kawasan Geopark Merangin. Rumah Tuo (Rumah Kuno) Desa Rantau Panjang yang berusia ratusan tahun tersebut masih dihuni warga masyarakat setempat hingga sekarang.

Menurut Nilwan Yahya, Rumah Tuo (Kuno) Rantau Panjang masuk kawasan Geopark Merangin, Jambi karena masyarakat setempat masih mempertahankan perkampungan dengan bangunan rumah tua berusia sekitar 300 – 400 tahun lalu. Rumah Tuo di Rantau Panjang ini masih ada yang didirikan sekitar tahun 1330 dan bangunanya masih bertahan hingga sekarang.

Warga masyarakat yang menempati Perkampungan Tuo tersebut saat ini merupakan keturunan yang ke-14 penerus penduduk Rumah Tuo tersebut. Mereka merupakan orang Batim Lamo, Suku Batin, Desa Rantau Panjang. Perkampungan tua tersebut memiliki luas sekitar empat hectare. Sedangkan jumlah rumah tua yang berdiri kokoh di perkampungan tersebut mencapai 70 unit.

Dikatakan, selain mempertahankan Rumah Tuo, masyarakat Suku Batin, Desa Rantau Panjang tersebut juga masih mempertahankan menjalankan tradisi nenek moyang, yakni Bantai Adat, Silat Menyudon dan Budaya Berselang. Setiap tahun, warga Suku Batin melakukan tradisi Bantai Adat, yakni memotong kerbau dalam jumlah banyak merayakan hari raya Lebaran.

‘’Perkampungan Rumah Tuo ini masih bagian kawasan Geopark Merangin. Karena itu perkampungan Rumah Tuo ini juga tidak luput dari penilaian tim evaluator UGG. Warga masyarakat kita harapkan menyambut Tim UGG nanti dengan baik dengan mempertunjukkan tradisi budaya yang masih lestari. Kemudian kita juga menjaga kebersihan dan keasrian Perkampungan Tuo ini dengan menyediakan tempat sampah di jalan masuk ke perkampungan,”ujarnya.

Wakil Bupati Merangin, H Nilwan Yahya (menuruni tangga) ketika meninjau Ruma Kuno di Perkampungan Tuo, Desa Rantau Panjang, Kecamatan Jangkat, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi, Senin (3/10/2022). (Foto : Matra/KominfoMerangin).

Tidak Ada Alasan 

Terkait persiapan menyambut Tim Penilai UGG, Nilwan Yahya mengatakan, berdasarkan pemantauan di beberapa lokasi Geopark Merangin yang akan dinilai, termasuk Perkampungan Tuo Desa Rantau Panjang, persiapan sudah mencapai sekitar 80 %.

‘’Hasil pantauan kami hingga Senin (3/10/2022), lokasi-lokasi titik Geopark Merangin, Jambi yang akan diassesment (dinilai) Tim Evaluator UGG sudah mencapai 80 persen. Mudah-mudahan sehari menjelang Tim Assesment UGG tiba di Merangin, persiapan sudah rampung 100 %,”katanya.

Dijelaskan, lokasi-lokasi atau titik Geopark Merangin yang akan dinilai Tim Assesment UGG antara lain, Danau Pauh, penggilingan kopi dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Desa Rantau Kermas, Kecamatan Jangkat. Kemudian pengemasan bubuk kopi di Desa Talang Tembago Kecamatan Jangkat Timur, situs Batu Silindrik Pratintuo di Desa Dusun Tuo dan perkebunan nanas di Kecamatan Lembah Masurai.

“Selain itu masyarakat adat Perkampungan Tuo, Desa Rantau Panjang juga sudah siap menampilkan berbagai ragam seni budaya dan kebersihan lingkungan menyambut Tim Assesment UGG nanti,”katanya.

Sementara itu, Koordinator Badan Pengelola Geopark Merangin, Malla Indra pada kesempatan tersebut mengungkapkan, setelah melihat persiapan Geopark Merangin menghadapi penilaian UGG sudah cukup matang dan memenuhi syarat UNESCO, tidak ada alasan lagi Geopark Merangin tak lolos penilaian UGG.

‘’Hasil pengamatan kami di lapangan, sebagian besar persyaratan yang diwajibkan UNESCO dipenuhi Geopark Merangun sudah kita lengkapi. Karena itu kami optimis, Tim Assesment UGG memberikan penilaian yang sempurna terhadap Geopark Merangin,”ujarnya.

Dikatakan, jika Geopark Merangin-Jambi sudah lolos UGG, situs peninggalan zaman purba tersebut akan menjadi kebanggaan semua masyarakat Kabupaten Merangin, masyarakat Provinsi Jambi, Indonesia dan bahkan kebanggaan dunia.

“Untuk itu mari kita dukung sepenuhnya upaya pemerintah mempersiapkan dan membenahi Geopark Merangin agar bisa meraih predikat Worl; Heritage,”ujarnya.

Sementara itu, General Manager Geopark Merangin, Dr Agus pada kesempatan tersebut mengungkapkan, Geopark Merangin termasuk objek wisata alam dan sejarah yang penuh pesona di Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Kawasan Geopark Merangin menyimpan wisata arung jeram yang selama ini sudah sering dijadikan arena lomba arung jeram nasional, yakni di Desa Air Batu, Renam Pembarap.

Dikatakan, pusat kawasan Geopark Merangin yang menyimpan banyak fosil zaman purba berada di sepanjang kawasan Sungai Batang Merangin dan Sungai Mengkarang, daerah hulu Sungai Batanghari. Pusat Geopark Merangin tersbeut dapat dijangkau dengan berarung jeram atau tracking di sepanjang aliran sungai.

“Biasanya wisatawan atau peneliti masuk ke kawasan Geopark Merangin melalui Desa Air Batu, Kecamatan Renah Pembarap, Kabupaten Merangin, Jambi. Desa tersebut memiliki jarak sekitar 35 kilometer (Km) dari Kota Bangko, Ibukota Merangin. Waktu tempuh dari Bangkok e Desa Air Batu hanya 30 menit,”katanya.

Fosil kerang berumur ratusan juta tahun yang ditemukan di kawasan Geopark merangin, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. (Foto : Matra/KominfoMerangin).

Menurut Agus, Geopark Merangin masih masuk kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Karena itu suasana alam Geopark Merangin sangat asri di kawasan hutan lebat di sepanjang daerah aliran sungai. Fosil di kawasan Geopark Merangin pertama kali ditemukan seorang warga ketika melakukan arung jeram puluhan tahun silam.

Saat itu, katanya, warga masyarakat tersebut secara tidak sengaja menemukan sebuah fosil batu berukuran 2,5 meter di pinggir sungai. Penemuan tersbeut akhirnya diteliti dan dipastikan batu besar tersebeut merupakan fosil kayu yang sudah membatu peninggalan zaman purba ini.

Dijelaskan, berdasarkan hasil penelitian, terbentuknya fosil kayu, kerang-kerangan dan daun-daunan di Geopark merangin disebabkan letusan gunung berapi di sekitar kawasan sekitar 20 juta silam. Abu vulkanik dan letusan lava gunung berapi membuat pohon-pohon purba membeku dan tertimbun abu vulkanik hingga ketebalan tujuh meter.

Agus memaparkan, berdasarkan hasil penelitian, fosil-fosil yang ada di Geopark Merangin sangatlah lengkap dan masih terjaga. Kondisi fosil berbeda dengan yang ada di Tiongkok dan Amerika Serikat. Fosil – fosil kayu, daun dan kerang-kerangan zaman purba di Tiongkok dan Amerika Serikat seduah rusak akibat kegiatan industri.

“Fosil yang ada di Geopark Merangin ini didominasi dengan fosil kerang, fosil mutiara purba dan fosil kayu. Sebagian besar fosil berada di bebatuan sepanjang Sungai Batang Merangin. Sebagian lagi fosil masih ada yang tertimbun tanah,”katanya.

Dijelaskan, Geopark Merangin secara resmi dudah tergabung dalam Geopark Nasional Indonesia 23 Desember 2013. Karena itu penelitian dan pengembangan Geopark Merangin pun terus dilakukan. Hal itu penting dalam rangka mempercepat pengakuan UNESCO terhadap Geopark Merangin sebagai Worl Heritage.

“Mudah-mudahan hasil penilaian Tim Assesment UGG nanti bisa menyatakan Geopark Merangin layak dikukuhkan menjai World Heritage. Persiapan untuk penilaian itu sudah kami lakukan secara maksimal sesua kriteria yang diberlakukan UNESCO,”ujarnya. (Matra/Radesman Saragih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *