4 Oktober 2022
Buku “In Memoriam” Pdt J Wismar Saragih yang ditulis putrinya, Pdt Minaria S Sumbayak, STh dan adiknya, Jaiman Sumbayak. (Foto : Matra/Ist).

Pengantar

Warga Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) memperingati 119 Tahun Pekabaran Injil di Tanah Simalungun, 2 September 2022. Menyambut peringatan 119 Tahun Pekabaran Injil di Simalungun tersebut, seluruh jemaat GKPS di Kabupaten Simalungun dan Tanah Air merayakan Pesta Olob-olob (Sukacita) Tingkat Jemaat, Minggu, 7 Agustus 2022.
Bertepatan dengan Pesta Olob-olob Jemaat se-GKPS tersebut, Redaksi medialintassumatera.net (Matra) menyajikan tulisan mengenai kiprah putra Simalungun yang menjadi pendeta pertama di Simalungun, Pendeta (Pdt) Saragih. Tulisan ini digarap Pemimpin Redaksi medialintassumatera.net, Radesman Saragih dari berbagai sumber. (Tulisan II). Selamat membaca.***

Setiap masyarakat memiliki pergumulan tersendiri sesuai dengan kondisi zamannya. Itu juga yang dialami masyarakat Simalungun. Di era awal Pekabaran Injil di Simalungun, 119 tahun silam, masyarakat Simalungun menghadapi belenggu keterbelakangan, kebodohan dan animisme.

Sebelum Injil disemaikan di Tanah Simalungun, masyarakat Simalungun memiliki berbagai tradisi kehidupan yang bertentangan dengan nilai-nilai Kristiani. Misalnya tradisi menganut animisme (sipajuh begu-begu), penyembahan berhala seperti menyembah gunung, sungai, kayu besar dan sebagainya.

Kemudian warga masyarakat Simalungun percaya adanya kekuatan dan kuasa roh-roh nenek moyang yang bisa melindungi kehidupan mereka dari malapetaka. Sifat-sifat orang Simalungun juga banyak yang menghambat kemajuan, yakni tertutup, sulit menerima sesuatu pembaharuan dan malas. Namun berkat terang Injil Kristus dan pendidikan, warga Simalungun mampu membebaskan diri dari ketertinggalan, keterbelakangan, kebodohan dan belenggu animisme.

Di era globalisasi Abad XXI ini, warga masyarakat dan gereja di Simalungun, juga mengalami berbagai pergumulan kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan religi. Globalisasi yang ditandai dengan ketatnya kompetisi (persaingan) kehidupan dan pesatnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi membawa gejolak perubahan sosial yang berdampak besar terhadap kehidupan gereja dan masyarakat di Simalungun.

Di antaranya, merebaknya permasalahan sosial, yakni masalah kemiskinan, dekadensi moral, kesehatan (penyakit), lingkungan hidup, radikalisme (intoleransi) hingga infiltrasi (penyusupan) aliran atau paham lain ke tengah-tengah GKPS.

Problema Kemiskinan

Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS) Simalungun 2021, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Simalungun masih mencapai 73.640 jiwa atau 7,1 % dari 1.038.120 jiwa total penduduk Simalungun tahun 2021. Kemiskinan tersebut kait mengkait dengan persoalan ketertinggalan pendidikan, penganguran dan tindak kejahatan. Masalah sosial lain yang juga cenderung meluas di Simalungun, yakni penyakit sosial seperti penyalahgunaan narkotika dan obat-obat berbahaya (narkoba), pergaulan bebas, pengangguran dan sebagainya.

Di tengah era industrialisasi, modernisasi dan globalisasi saat ini, berbagai masalah sosial yang menonjol di tengah kehidupan masyatakat, yakni yakni penyakit kronis (kesehatan), kenakalan remaja, kemalangan, ketergantungan narkoba, pengangguran, pemutusan hubungan kerja (PHK), pensiun dan lanjut usia.

Penyakit sosial tersebut tentunya berdampak buruk terhadap kehidupan kekristenan karena waktu, pemikiran, tenaga dan materi tersita untuk hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai sosial, moral dan rohani tersebut.

Globalisasi juga membawa tantangan besar bagi kehidupan masyarakat dan gereja saat ini hingga ke masa depan. Tantangan tersebut, yakni perubahan sifat dan perilaku orang dan masyarakat yang semakin individualis, egosentris, konsumeris dan kapitalis. Belakangan ini dan diprediksi hingga di masa mendatang, sifat-sifat orang yang individualis dan egois tersebut akan terus meningkat seiring perubahan tata nilai dan norma-norma masyarakat modern.

Sifat-sifat dan pola hubungan seperti itu tentunya sangat bertentangan dengan nilai-nilai rohani (spritualitas) yang tertuang dalam Injil Kristus yang mengutamakan, kebersamaan, persaudaraan dan kepedulian. Bila kondisi demikian dibiarkan berlarut, sifat dan perilaku sosial tersebut juga bisa merambah ke tengah-tengah gereja dan hal itu akan merusak sendi-sendi persekutuan dan kesaksian maupun pelayanan.

Pdt Dr Wilmar Sihite (menantu Pdt J Wismar Saragih) dan isterinya, Pdt Minaria S Sumbayak, STh (putri bungsu Pdt J Wismar Saragih). (Foto : Matra/BukuInMemoriamPdtJWismarSaragih)

Kerusakan Lingkungan

Kerusakan lingkungan juga sejak lama sudah mendapat perhatian GKPS menyusul kondisi kerusakan lingkungan di Simalungun semakin memprihatinkan. Hal tersebut dapat dilihat dari hutan yang semakin gundul, sampah yang belum dikelola secara baik, pencemaran sungai dan Danau Toba akibat limbah dan sampah.

Berdasarkan catatan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Utara, kerusakan lingkungan hidup (kerusakan hutan) di lingkungan Danau Toba wilayah Simalungun semakin parah. Salah satu di antaranya kerusakan hutan di Kecamatan Sipangan Bolon, Parapat yang telah mencapai 1.200 hektare (ha) atau sekitar 17 % dari 7.026 ha total luas hutan di daerah itu.

Selain itu pencemaran air sungai dan Danau Toba di Simalungun juga semakin memprihatinkan. Air Danau Toba dan sungai-sunga di Simalungun yang di era 1980 – an masih bisa digunakan sebagai sumber air bersih (konsumsi), kini sudah tercemar. Air Danau Toba di Simalungun yang tercemar tersebut tidak bisa lagi dikonsumsi. Kondisi tersebut cukup ironis di tengah terus bertambahnya gereja di Simalungun dan meningkatnya pendidikan warga Simalungun.

Tantangan Radikalisme

Radikalisme juga menjadi salah satu tantangan besar bagi kehidupan Gereja di Simalungun belakangan ini. Baik itu radikalisme agama di luar Kristen maupun radikalisme di lingkungan Kristen. Radikalisme di luar lingkungan Kristen membuat merebaknya sikap intoleransi masyarakat yang membuat kesulitan bagai warga Kristen, termasuk Simalungun mengembangkan PI.Hal ini umumnya terjadi di tengah warga GKPS di diaspora (perantauan).

Kemudian radikalisme di tengak Kristen sendiri juga sering membuat terjadinya intoleransi di tengah sesama umat Kristen. Hal tersebut ditandai dengan sikap saling menyalahkan hingga mendiskreditkan di antara sesama umat Kristen yang berbeda paham atau aliran.

Radikalisme di lingkungan interen Kristen tersebut memunculkan infiltrasi (penyusupan) paham agama (aliran) baru di tengah kekristenan, termasuk di lingkungan GKPS. Tidak sedikit warga Kristen Protestan, termasuk warga GKPS yang terpengaruh ajaran yang menyatakan mereka paham kharismatik tersebut pindah gereja.

Kemudian mereka ada juga yang tetap di GKPS, namun mereka berupaya menyusupkan ajaran kharismatik tersebut ke lingkungan GKPS. Kondisi tersebut membuat mereka melupakan visi danmisi PI Lutheran yang berfokus pada kebenaran Injil Kristus itu sendiri.

Sekitar 50 % warga GKPS belakangan ini sering beribadah di gereja lain. Kemudian sekitar 25 % dari dari 50 % warga GKPS yang tidak beribadah di GKPS tersebut, beribadah di gereja yang menganut paham (dogma) lain. Sedangkan berdasarkan kajian Bupati Simalungun, St Radiapoh Hasiholan Sinaga, SH, MH yang disampaikan pada Sinode Bolon ke-45 GKPS di Balai Bolon GKPS Kota Pematangsiantar, Sumut, Selasa (28/6/2022), jumlah warga jemaat GKPS yang mengikuti kebaktian minggu menurun dari 45 % tahun 2020 menjadi 44 % tahun 2021. Sedangkan warga jemaat GKPS yang mengikuti ibadah rumah tangga turun dari 33 % tahun 2020 menjadi 27 % tahun 2021.

Warga jemaat GKPS di kota sudah banyak studi perbandingan kepada gereja-gereja lain. Jadi sekarang tidak hanya kalangan generasi muda pergi beribadah ke gereja kharismatik, orang tua pun sudah banyak ke sana atau gereja lain. Bahkan sudah banyak warga kita kebaktian pagi dulu di gereja yang lain baru siang pergi ke GKPS, atau sore ke kebaktian gereja yang lain, siang ke GKPS.

Merebaknya paham agama baru di tengah kekristenan di luar paham Kristen seperti diajarkan Martin Luther juga menjadi tantangan kehidupan gereja dan masyarakat belakangan ini. Paham tersebut, yakni ajaran (paham) Kristen yang mengabaikan pola-pola hubungan sosial yang mengedepankan ahap (rasa sehati- sepikir) di tengah – tengah gereja. Paham seperti itu lebih mengutamakan hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan.

Paham tersebut cenderung membuat kebersamaan di tengah persekutuan menjadi pudar dan hambar. Orang-orang Kristen semakin banyak mengumbar seruan pertobatan, sehingga mereka hanya mementingkan keselamatan diri sendiri. Mereka alpa tentang rangkulan emosional antar saudara seiman untuk bersama-sama mengemban misi PI agar semua manusia bisa diselamatkan sesuai inti PI itu sendiri.

Keselamatan yang dimaksud paham Lutheran tersebut bukan hanya keselamatan sorgawi, melainkan juga keselamatan kehidupan di dunia melalui pencapaian kehidupan yang sejahtera, kehidupan yang selalu bersyukur, kehidupan yang selalu bertanggung jawab secara bersama mengabarkan dan mengabadikan Injil seperti harapan Tuhan Yesus, para misonaris dan para pendahulu PI di Tanah Simalungun.

Justru di era modern konsumerisme bragama semakin merebak, khususnya di kalangan generasi pemuda. Mereka lebih tertarik kepada peribadahan yang revival (menyala-nyala atau bersemangat) untuk kepuasan keimanan sendiri saja. Mereka lupa makna dari Gereja yang misioner, yaitu Gereja/Kristen bagi sesama di mana orang yang percaya Kristus secara konsisten dan setia turut menceritakan kasih Kristus kepada sesama agar mendapat keselamatan.

Melalui ajaran agama Kristen yang bersifat revival tersebut, agama-agama dengan semua akan sempalannya seolah sedang menjajakan dagangannya dan mengemasnya seindah mungkin. Pola kegiatan beragama seperti itu menjadi salah satu godaan besar bagi pemuda Kristen. Pola kegiatan keagamaan yang revival yang diimpor dari Amerika tersebut merupakan kegiatan keagamaan yang tidak matang. Gaya agama seperti inilah yang kini mewabah, namun gaya tersebut bukanlah solusi bagi pemuda untuk menemukan jati diri mereka.

Pendeta pertama dari kalangan putra asli Simalungun, Pdt J Wismar Saragih (1888 – 1968) sendiri mengedepankan theologia pembebasan yang mengutamakan humanisme, kepedulian, pengorbanan, ketulusan menyelamatkan orang lain dari kehidupan kegelapan ke kehidupan terang seperti misi Injil Kristus itu sendiri. Sementara yang berkembang belakangan ini di Abad 21 ini, yaitu kehidupan manusia, termasuk umat Kristen cenderung mengedepankan materialis, individualis dan hedonis.

Pesatnya kemajuan dan kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi di Abad XXI ini juga menimbulkan tantangan bagi gereja dan masyarakat Simalungun. Perkembangan pesat multimedia, internet dan media sosial banyak menimbulkan dampak negatif terhadap hubungan komunikasi di tengah keluarga, gereja, komunitas dan masyarakat.

Di tengah booming (ledakan) teknologi komunikasi dan informasi saat ini, warga GKPS dan masyarakat Simalungun seperti masyarakat global umumnya cenderung mengabaikan hubungan antar pribadi. Padahal hubungan antar pribadi penting merekatkan hubungan kekeluargaan atau persekutuan karena hubungan antar pribadi kental dengan balutan rasa humanisme.

Mantan Ephorus GKPS (2010 – 2015), Pdt Dr Jaharianson Saragih, STh, MSc, PHd, cucu Pdt J Wismar Saragih (Foto : Matra/Ist).

Aktualisasi Spritualitas

Menghadapi kompleksitas persoalan kehidupan manusia, termasuk persoalan Gereja sendiri di Abad XXI ini, spritualitas dan pemikiran Pdt J Wismar perlu terus diaktualisasikan dalam setiap kegiatan persekutuan, kesaksian dan pelayanan Gereja GKPS maupun pembangunan masyarakat Simalungun.

Spritualitas Pdt J Wismar Saragih yang bisa diaktualisasikan GKPS menghadapi gejolak perubahan zaman di Abad XXI ini, yakni bersikap mandiri dalam membangun kehidupan religi/kerohanian. Kemandirian kehidupan religi sesuai Injil Kristus tersebut membangun ketangguhan mental spiritual orang Simalungun (GKPS) menghadapi berbagai godaan tawaran kenikmatan duniawi, seperti materialisme dan hedonisme yang sering membuat orang lupa pada kebenaran Injil Kristus itu sendiri.

Spritualitas Pdt J Wismar yang tidak mau tergoda kenikmatan duniawi (tidak materialis dan anti suap) juga penting diaktualisasikan membentengi kehidupan kerohanian warga Kristen Simalungun (warga GKPS). Hal itu penting agar berbagai dampak negatif kemajuan zaman tidak sampai menggoyahkan iman warga jemaat GKPS dan tidak ada warga GKPS yang terjerat berbagai penyimpangan kehidupan sosial akibat terjerumus berbagai penyakit sosial.

Selain itu Pdt J Wismar Saragih juga memberikan keteladan bagi warga GKPS, Sialungun dan bangsanya mengenai humanisme dalam kehidupan. Humanisme tersebut ditandai dengan rasa belas kasihan kepada orang lemah, memberi pertolongan atau bantuan dan intei (waspada) terhadap hal-hal yang mengancam keamanan maupun kedamaian hidup masayarakat/warga jemaat.

Bangun Karakter

Pemikiran Pdt J Wismar Saragih juga yang perlu diaktualisasikan di tengah perubahan zaman Abad XXI ini, yakni meningkatkan pendidikan berkarakter yang bisa membangun integritas dan kemandirian kehidupan setiap orang Simalungun. Pendidikan karakter mampu menguatkan sikap mental orang Simalungun dan warga GKPS menyikapi segala gejolak perubahan sosial, sehingga tidak terjerumus pada pola hidup yang pragmatis, konsumeris dan hedonis.

Integritas pribadi yang diraih melalui pendidikan karakter membuat orang Simalungun (warga GKPS) mampu menjalani hidup dengan jujur, peduli, humanis dan tetap berorientasi pada terang Injil Kristus di tengah merebaknya berbagai perilaku sekuler, egois, konsumeris dan apatis kehidupan masyarakat di era globalisasi saat ini.

Pemikiran Pdt J Wismar Saragih mengenai humanisme dan kepedulian sosial juga harus terus dikembangkan, yakni pemikiran mengenai pentingnya kesejahteraan bagi setiap insan dan pentingnya kebersamaan memperjuangkan kesejahteraan orang-orang percaya dan segala makhluk ciptaan Tuhan, meningkatkan partisipasi dalam pembangunan dan menjaga kerukunan umat beragama di tengah masyarakat majemuk.

Pemikiran Pdt J Wismar Saragih mengenai peningkatan kesejahteraan orang Simalungun yang telah diemban GKPS sekian lama juga perlu terus dilanjutkan. Di antaranya usaha pemberdayaan ekonomi jemaat melalui Lembaga Pelpem (Pelayanan Pembangunan), koperasi (CUM/Credit Union Mandiri), peningkatan kepedulian terhadap sesama (serikat tolong menolong), diakoni sosial, peningkatan pelayanan eksehatan melalui lembaga kesehatan GKPS.

Penggembalan juga perlu ditingkatkan seperti yang dilakukan Pdt J Wismar pada masa tugasnya, yakni mengunjungi orang-orang Simalungun di daerah terpencil, di rumah-rumah maupun rumah sakit. Saat ini Pelayan GKPS bisa melakukan hal seperti itu melalui home care (pelayanan ke rumah-rumah), konseling dan pemberian apresiasi (penghargaan) terhadap setiap insan yang mampu tetap konsisten melayani di GKPS secara ikhlas.

Pelayanan pastoral (konseling) di GKPS semakin dibutuhkan mengingat semakin banyak warga GKPS dan masyarakat umum yang mengalami tekanan mental atau psikologis menghadapi kompleksitas persoalan hidup di era modern ini. Pergumulan hidup tersebut bisa menimbulkan kegoncangan kehidupan sosial dan psikologis warga jemaat jika mereka tidak memiliki kemampuan diri secara mental dan kerohanian atau tidak memiliki pendamping yang baik, teman curahan hati (significant other) guna mencari solusi.

Seiring dengan dengan adanya penderitaan, orang makin mundur dari iman yang besar menyisihkan diri dari persekutuan. Orang yang bergumul dan menderita sering mengatakan tidak perlu untuk bersekutu. Persekutuan makin terasa hambar dan tanpa makna. Pada suasana yang demikian penggembalaan dapat berfungsi untuk menolong kembali orang-orang yang terpisah dari persekutuan itu agar kembali ke dalam persekutuan.

Kepedulian terhadap nilai-nilai luhur budaya Simalungun seperti yang dutunjukkan Pdt J Wismar Saragih juga perlu tetap dilakoni warga Simalungun/GKPS agar tetap bisa menjalani kehidupan dengan langgeng dalam rajutan ahap (satu rasa kebersamaan dan persaedaraan) Simalungun. Nilai-nilai budaya Simalungun juga bisa menguatkan persaudaraan orang Simalungun (GKPS) melalui motto “Habonaron do Bona” (mengedepankan kebenaran) dan “Sapangambei Manoktok Hitei” (jiwa gotong royong).

GKPS perlu terus berjuang melestarikan seni budaya Simalungun karena GKPS menjadi salah satu benteng terakhir penyelamatan seni budaya Simalungun. GKPS sudah banyak mengakomodir dan mengadopsi karya-karya seni budaya tokoh rohani Simalungun dan seniman/budayawan Simalungun menjadi bagian dari kegiatan peribadahan di GKPS.

GKPS juga sudah memiliki pondasi untuk menghadapi berbagai tantangan zaman, termasuk tantangan zaman di Abad XXI ini. GKPS sudah memiliki Pelayanan Pembangunan (Pelpem) yang memperhatikan kehidupan ekonomi dan pembangunan masyarakat di Simalungun. GKPS sudah memiliki Lembaga ekonomi rakyat, CUM Talenta.

Kemudian GKPS juga sudah memiliki Yayasan Kesehatan yang mengelola dua rumah sakit, yakni RS Btehesda Seribudolok dan RS Pematangraya dan memiliki Yayasan Diakonia GKPS. Selain itu GKPS juga sudah memiliki Lembaga pelayan sosial lain seperti, Panti Asuhan Bumi Keselamatan Margaritha (BKM) mengasuk anak-anak terlantar, Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (RBM), Women Crisis Center “Sopu Damei”, Komite Intei HIV-AIDS dan Narkotika, Lembaga Bantuan Hukum “Zaitun”, Badan Usaha dan Yayasan Pendidikan.

Semua perangkat pelayanan tersebut perlu terus dioptimalkan memberdayakan seluruh warga GKPS dan Simalungun menghadapi berbagai persoalan hidup di tengah gejolak perubahan zaman Abad XXI ini. Segenap pelayan dan warga GKPS perlu mengingat dan meneladani spritualitas, pemikiran dan karya – karya Pdt J Wismar Saragih.

Nasehat-nasehat religius dan cerdas Pdt J Wismar Saragih yang perlu dilakoni segenap pelayan dan warga GKPS, yakni hidup tetap bersandar pada penyertaan Tuhan, tidak melupakan persekutuan, tetap belajar, saling percaya mencegah perpecahan, menjaga hati tetap baik, bersikap jujur dan rendah hati.

Kemudian berbicara jangan menyinggung perasaan orang lain, saling mengasihi secara kasih agave, jangan mementingkan hal-hal jasmani/duniawi, jangan menyalahgunakan pekerjaan, tetap memperjuangkan dan mendoakan cita-cita serta memanfaatkan waktu untuk kebaikan.

GKPS harus meningkatkan pembinaan keagamaan melalui pola-pola humanis dan kepedulian sosial, meningkatkan kualitas pendidikan berkarakter, perkuatan ekonomi rakyat, perbaikan kualitas kesehatan hingga peningkatan mentalitas/moralitas. Kemudian nilai-nilai luhur budaya Simalungun yang mengedepankan kebenaran, ahap (rasa persaudaraan) dan sikap kegotong-royongan di tengah kehidupan gereja dan masyarakat Simalungun perlu dilestarikan.(Selesai).***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.