29 September 2022
Presiden Jokowi (tiga dari kiri) meninjau proses penelitian minyak makan merah di PPKS Kampung Baru, Kota Medan, Kamis (07/07/2022). (Foto: Matra/BPMI Setpres/Kris).

(Matra, Medan) – Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) di Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut) berhasil memproduksi produksi minyak goreng merah. Produksi minyak goreng merah tersebut merupakan inovasi minyak sawit yang berpotensi digunakan sebagai pangan fungsional membantu pencegahan stunting atau gangguan pertumbuhan anak akibat kurang gizi.

“Minyak goreng merah ini tidak hanya bisa dimanfaatkan untuk menggoreng makanan, tapi bisa juga menjadi suplemen makanan bergizi membantu anak-anak dari masalah stunting. Nilai gizi dari minyak goreng merah ini sangat besar dibanding dengan minyak goreng yang beredar di pasaran,”kata Kepala PPKS Medan, Edwin Lubis ketika PPKS yang berada di Kampung Baru, Kota Medan, tersebut dikunjungi Presiden Joko Widodo (Jokowi), Kamis (7/7/2022).

Presiden Jokowi menyempatkan diri mengunjungi pusat penelitian minyak goreng merah tersebut dalam rangka peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2022 di Lapangan Merdeka, Kota Medan, Kamis (7/7/2022).

Turut hadir pada kesempatan tersebut, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dan Menteri Sekretaris Negara Pratikno.

Kemudian hadir juga Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi, Wali Kota Medan, Bobby Nasution dan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo.

Edwin Lubis mengatakan, keunggulan minyak goreng merah tersebut terletak pada nilai gizi dan kandungan pro-vitamin A dan E yang lebih tinggi dari minyak goreng pada umumnya. PPKS Medan mengolah minyak goreng tersebut menggunakan teknologi sederhana dengan mempertahankan nutrisi di dalamnya.

“Keunggulan dari minyak goreng merah ini adalah gizi atau kandungan vitamin A dan vitamin E lebih tinggi karena kita mengutamakan nutrisi dalam pengolahannya,”lanjutnya.

Menurut Edwin Lubis, produksi minyak goreng merah ini dapat dikembangkan oleh koperasi dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) karena nilai investasi yang lebih kecil dibandingkan pabrik minyak goreng komersial. Selain itu, biaya logistik produksi minyak goreng merah ini juga kecil.

“Produksi minyak goreng merah ini diharapkan bisa dibangun di sentra atau di daerah-daerah pedesaan dengan biaya lebih murah. Hal itu bisa dilakukan karena biaya logistiknya atau pengangkutannya bisa dikatakan tidak ada,” tambahnya.

Dijelaskan, edukasi dan sosialisasi tentang manfaat minyak goreng merah perlu dilakukan kepada masyarakat karena adanya perbedaan warna dengan minyak goreng pada umumnya.

Semua pihak diharapkan mendukung dan membantu menyosialisasikan produk inovasi minyak goreng merah yang dapat menjadi salah satu solusi memenuhi gizi bagi masyarakat Indonesia.

“Harapan kami, seluruh stakeholder (pemangku kepentingan) mendukung sosialisasi minyak goreng merah ini agar bisa dikenal dan dikonsumsi masyarakat secara luas,”katanya. (Matra/AdeSM/FebP/BerbagaiSumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.